11 December, 2006

Das Leben der Anderen vs Deja Vu

Akhirnya Jiffest datang lagi. Tahun ini gue tidak seberuntung tahun lalu, yang berhasil dapet tiket untuk opening dan closing screening nya. Berkat keleletan diri sendiri dalam membeli tiket dan kesimpangsiuran jadwal penjualan tiket dari panitia, gue gagal nonton Babel (opening) dan Blackbook (closing).

Anyway...kemaren gue nonton The Lives of Others. Film Jerman yang mengambil setting Jerman Timur 5 tahun sebelum runtuh dan bersatu dengan Jerman Barat. Terbantu oleh teks Inggris, gue berhasil mengapresiasi film ini. Agak-agak ada spot yang terlewat karena badan kelewat lelah setelah menghajar diri di gym selama setengah jam.

Kurang lebih ceritanya seperti ini (sumber: website jiffest):
Five years before its downfall, the former East-German government cemented its claim to power with a ruthless system of control and surveillance. Captain Gerd Wiesler is ordered to collect evidence against the playwright Georg Dreyman and his girlfriend, the celebrated theater actress Christa-Maria Sieland. But he doesn’t anticipate that he will soon immerse himself in the subjects on whom he spies. The duty becomes an obsession to Wiesler, an obsession that lead hims to a more dangerous consequence.

Yang menarik di film ini: seorang ahli spionase, interogator handal yang paling ditakutin sama murid-muridnya, bisa tergerak hatinya. Entah apa yang bikin dia segitu ngototnya ngelindungin orang yang dia mata-matai sendiri. Ending film ini juga manis. * AWAS, SPOILER ALERT* : Si penulis mempersembahkan sebuah buku untuk Wiesler. Ketika Wiesler membeli buku ini, dan si penjaga toko nanya mau dibungkus kado apa nggak, Wiesler menjawab: No, it’s for me

Film di atas gue tonton sehari setelah nonton Deja Vu, film Amerika yang diproduseri oleh Jerry Bruckheimer yang menceritakan agen ATF yang menyelidiki peristiwa peledakan sebuah kapal Ferry. Mirip film Timeline, di film ini dimunculkan sebuah teknologi untuk bisa melihat ke masa lalu (tepatnya empat setengah hari yang lalu), bahkan untuk ‘mengirim’ item tertentu ke periode tersebut (mulai dari surat sampe orang). Ide yang menarik… dan mungkin. Berhubung manusia di dunia ini udah gak ketulungan pinternya, bukan gak mungkin teknologi ini akan ada (atau mungkin jangan-jangan udah ada???). Yang mengganggu dan bikin drop adalah endingnya. *SPOILER ALERT LAGI* Amerika sekali…seorang jagoan, bagaimanapun caranya harus dan pasti akan selamat dari maut, dan tetap jadi pahlawan. Yang membedakan cuma materialnya aja…kalo dulu jagoan selalu berhasil selamat dari api (settingnya keluar dengan slow motion dari mobil atau gedung yang terbakar, dengan efek asap-asap gitu), maka sekarang si jagoan berhasil dianggap hidup setelah tenggelam (logikanya dimanaaaa???)

Itulah yang membuat gue menikmati film Amerika untuk hiburan, sementara gue CINTA sama film Eropa untuk ditonton berulang-ulang. Kenapa? Falsafah bittersweet dan bloody truth nya itu lhooo….!!!!

The Date

It was a hot afternoon in a small coffeshop...

TUV: How's your date?
TRA: What date?
TUV: Oh, cut the crap!...the date...THE DATE...the one that you've always waited for!
TRA: That's not a date, we just had dinner.
TUV: Still...it's called a date
TRA: Look...when you have a date with someone, in my opinion, you should have a nice conversation, about yourselves, and at the end of the 'date' you will know the person better. Which...I didn't experience that on that dinner. What we had was a plain and standard conversation
TUV: But you did...have a good time, though?
TRA: Yes, I didn't say that I was stranded in a boring dinner. It was nice...but I didn't see any other dinner after that. It's the third dinner...and I don't see the forth...
TUV: Because....?
TRA: Because I never met him ever since...
TUV: NOPE! Wrong answer! Because you don't want to meet him afterwards!
TRA: Says who?
TUV: Come on! I know you since the beginning of you love life 'adventure'....I know that if you want to meet someone, you will pursue the person! Don't try to fool me.
TRA: Don't you think I change? I DO want to meet him.. but...I can't make him wanting to meet me
TUV: Hmm...while you both talking...you see each other's eyes, right???
TRA: Yes...why?
TUV: Did you see 'IT' in his eyes?
TRA: What?
TUV: Sparkles, stars, any hint that shows that he was in to you
TRA: Well...I don't know...maybe it's just my 'feeling' who wanted to see it...

Silence..........................................................

TRA: Maybe that's the reason!!!
TUV: What???
TRA: The reason why he's avoiding me
TUV: That is.....?
TRA: HE DID SEE SPARKLES IN MY EYES!!! and he's freaking out about it!
TUV: hehehe....it's sucks to be honest, right...?
TRA: hmmm..well, if that's the case, sorry, then. Who told him to look deep in my eyes that night?...hehehe

Both laughing....over honesty

28 September, 2006

5th of Ramadhan

Hari kelima....

Aku masih belajar untuk sabar
Aku masih belajar untuk menekan emosi supaya tidak naik ke permukaan
Aku masih belajar untuk mengalah
Aku masih belajar untuk menerima nilai yang dipegang oleh mayoritas walaupun menurutku nilai itu benar-benar tidak layak untuk dipertahankan

Hari kelima....

Aku belajar bahwa saat ini masih ada pikiran yang sempit
Aku belajar bahwa saat ini masih banyak pikiran yang berdasarkan pada untung dan rugi
Aku belajar bahwa saat ini ternyata perilaku suportif dan apresiatif bukan menjadi prioritas
Aku belajar bahwa saat ini batas antara menuntut hak dan tamak menjadi sangat tipis...

Hari kelima....

Setidaknya aku belajar sesuatu
Setidaknya aku masih merasa 'ada yang tidak benar'
Setidaknya aku masih punya 'alarm'
Alhamdulillah...

ps: Pembelajaran, seberapapun pahitnya, pasti akan berguna kok Tiek...percaya deh

08 September, 2006

Untuk Diwariskan....(kalau mau mewarisi)

Akhirnya, setelah lama enggan, salah satu sahabat saya, Ann, bersedia membagi alamat blognya untuk saya baca. Itupun tercetus setelah terjadi konsultasi akan masalah psikologis saya di Dairy Queen - Senayan City selama 1 jam. Di blog itu, ternyata sebagian dia membahas mengenai ke'garing'an saya dalam mebuat terjemahan-terjemahan ngaco untuk ungkapan-ungkapan dalam bahasa Inggris ke bahasa Indonesia.

Setelah saya baca, saya jadi sadar...ternyata saya punya beberapa koleksi terjemahan garing lainnya. Beberapa saya dapat dari teman-teman sepanjang hidup saya, terutama sejak sma sampai kuliah. Lucu juga untuk dibikin daftarnya di sini, supaya gampang untuk diwariskan kepada penerus saya (1 step to another...step 1: i have to have my own child, step 2: he/she is willing to inherit those bad jokes from me...hehehe).

Ok...ini yang teringat saat ini:

  1. Fun Fearless Female: Segerombol perempuan lucu dan tidak penakut
  2. Victoria's Secret (merk bra): Rahasia Victoria
  3. You're the meaning in my life, you're the inspiration (dari lagu You're the Inspiration - Chicago): Kau arti dalam hidupku, kau inspirasiku (coba baca sesuai dengan irama lagu sebenarnya, pasti terasa norak...hahaha)
  4. Especially for You (judul lagu): Spesial untukmu (sama seperti no. 3)
  5. Hard to say I'm Sorry (judul lagu): Susah minta maaf
  6. If I Fell (lagunya Beatles): Kalau aku jatuh
  7. ini kebalikannya --> Es lilin maah Ceuceu...kalapa muda: candle ice, sister... young coconut :))
  8. Get The Right Person on The Job (nama buku kuliah saya): Ambil orang sebelah kananmu
  9. Close to Heaven (lagunya Color Me Badd): mau mati... (serem ya, padahal lagunya romantis banget lho)
  10. Maybe it's you...maybe it's you...(dari lagu It Might be You - Kenny Loggins): Mungkin kamu...mungkin kamu...(seperti nomor 3. Hihihi...sumpah garing banget!!!)

Tingkat kelucuannya sih relatif, karena mungkin ada yang lucu bagi saya, gak lucu bagi yang lain. Tapi cerita dibalik saat kegaringan itu diciptakanlah yang berarti buat saya... Saat itu saya sedang tertawa, berbagi kelucuan unik dengan teman-teman yang mungkin cuma bisa dimengerti oleh kami yang terlibat saat itu. Tapi justru itu yang ngangenin...

Hhh...jadi emosionil lagi nih....

- siang, menjelang Management Meeting -

07 September, 2006

Doa Ibu

Doa ini gue dapet dari bulbo salah satu teman di friendster....

Ya Ghaffar, ya Rahim
Kau letakkan di rahim kami anak-anak negeri ini
Kau amanatkan diri-diri mereka pada lindungankasih-sayang kami
Kau percayakan jiwa-jiwa mereka pada bimbingan ruhani kami
Kau hangatkan tubuh-tubuh mereka dengan dekapan cinta kami
Kau besarkan badan-badan mereka dengan aliran air susu kami

Tuhan kami,
Kami telah sia-siakan kepercayaan-Mu
Kesibukan telah menyebabkan kami melupakan amanat-Mu
Hawa nafsu telah menyeret kami untukmenelantarkan buah hati kami
Tidak sempat kami gerakkan bibir-bibir mereka untuk berzikir kepada-Mu
Tidak sempat kami tuntun mereka untukmembesarkan asma-Mu
Tidak sempat kami tanamkan dalam hati mereka kecintaan kepada Nabi-Mu

Kami berlomba mengejar status dan kebanggaan, meninggalkan anak-anak kami dalam kekosongandan kesepian
Kami memoles wajah-wajah kami dengan kepalsuan, membiarkan anak-anak kami meronta dalamkebisuan

Kami terlena memburu kesenangan sehingga tak kami dengar lagi mereka menangis manja sambil memandang kami dengan pandangan cinta seperti dulu, ketika mereka mengeringkan air mata mereka dalam kehangatan dada-dada kami

Dosa-dosa kami telah membuat anak-anak kami menjadi pemberang, pembangkang, dan penentang-Mu
Dosa-dosa kami telah membuat hati mereka keras, kasar, kejam, dan tidak tahu berterima kasih

Sebelum Engkau ampuni mereka,
Ya Allah ampunilah lebih dahulu dosa-dosa kami
Ya Allah, berilah kami peluang untuk mendekap tubuh mereka dengan dekapan kasih sayang kami
Berilah kami waktu untuk melantunkan pada telinga mereka ayat-ayat Alquran dan Sunnah Nabi-Mu
Berilah kami kesempatan untuk sering menghadap-Mu dan memohon kepada-Mu seusai salat kami untuk keselamatan, kesejahteraan, dankebahagiaan anak-anak kami
Bangunkan kami di tengah malam untuk merintih kepada-Mu mengadukan derita dan petaka yang menimpa anak-anak negeri ini
Izinkan kami membasahi tempat sujud kami dengan air mata penyesalan akan kelalaian kami

Ya Allah, ya Jabbar, ya Ghaffar
Anugerahkan kepada para pemimpin kami kearifan untuk mendidik anak-anak negeri ini dalam kesalehan
Berikan kepada mereka petunjuk-Mu sehingga mereka menjadi suri teladan bagi kami dan anak-anak kami
Limpahkan kepada mereka perlindungan-Mu supaya mereka melindungi kami dengan keadilan-Mu
Jauhkan mereka dari kezaliman sehingga kami dapat mengabdi-Mu dengan tentram dan aman

Ya Rahman, ya Rahim
Indahkan kehidupan kami dengan kesalehan anak-anak kami
Peliharalah anak-anak kami yang kecil
Kuatkanlah anak-anak kami yang lemah
Sucikan kalbu mereka
Bersihkan kehormatan mereka
Sehatkan badan mereka
Cerdaskan akal mereka
Indahkan akhlak mereka

Gabungkanlah mereka bersama orang-orang yang bertakwa kepada-Mu,
yang mencintai Nabi-Mu, keluarganya yang suci, dan sahabatnya yang mulia
yang berbakti kepada orangtuanya
yang bermanfaat kepada bangsanya
yang berkhidmat kepada sesama manusia

Wahai Zat yang nama-Nya menjadi pengobat
yang sebutan-Nya penyembuhan
yang ketaatan-Nya kecukupan
sayangi kami yang modalnya hanya harapan dan senjatanya hanya tangisan

Kabulkanlah doaku...Amiiin....

22 August, 2006

Praying to God vs Playing God towards God

Manusia memang aneh....
Waktu merasa kedinginan, kita mengeluh dan secara gak sadar berdoa supaya dikasih rasa hangat.
Waktu kepanasan, mengeluh lagi dan (secara gak sadar juga) berdoa minta kesejukan (maunya apa sih..?).

Manusia sering gak tahu diri...
Saat kita minta petunjuk akan sesuatu, kita berdoa sedemikian rupa minta diberikan petunjuk sejelas-jelasnya, dengan dalih tidak cukup cerdas untuk menangkap petunjuk yang diberikan melalui tanda-tanda implisit...
Saat petunjuk itu diberikan, yang mana jawabannya unfavorable buat kita, kita (entah sadar atau nggak) berdoa lagi...masih minta petunjuk, but there is a twist at the end of the prayer.... we pray to God to change the answer...

(tertawa miris)...
Hey!!! you're not in the position to do some "PLAYING GOD" towards God!!! Instead of praying to God, you're trying to tell God what to do.

That's not how the business goes, my friend....!

God works in His own ways...just follow the path, enjoy the whole wonderful and sucks ride, find the reward at the end of the journey.
And THAT"S how the business goes...! :))

- a reflection on a very hot afternoon - (sumpah panas banget!!!)

14 July, 2006

Mencela

Dalam banyak hal, saya sangat suka humor. Saya belajar banyak joke dari teman-teman saya, yang walaupun tidak terlalu banyak untuk bisa dibilang sebagai Anak Gaul Jakarta. Tapi biar begitu...saya bersyukur punya banyak teman yang mengelilingi saya.

Kedekatan saya dengan teman-teman saya cukup seru dan unik. Sudah berkembang dengan sedemikian rupa sebuah 'komunikasi tak tertulis' di antara kami. Kami sudah terbiasa dengan simbol-simbol (apa maksudnya? nanti kita bahas). Kami sudah bisa membaca 'hal yang tersirat' dari setiap bentuk komunikasi, termasuk dalam hal cela-mencela. MENCELA SEBAGAI TANDA SAYANG sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kami.. :))

Tapi, humor dan celaan juga harus tahu lokasi, waktu dan tentu saja ... pihak orang yang menerima. Nah... kemarin saya mengalami kejadian tidak menyenangkan dengan seorang kenalan pada saat chatting. Saya belum bisa menyebutnya teman karena dalam kamus saya, di antara 2 orang teman ada respek dan rasa saling menghormati yang terjalin (ya, melalui simbol itu tadi). Sama kenalan yang ini...walaupun saya sudah mengenalnya cukup lama, entah kenapa respek dan rasa hormat itu belum tumbuh dalam diri saya. Saya belum merasa nyaman untuk benar-benar menjadi temannya.

Saya tidak mau menceritakan secara detil apa yang terjadi...malas, cuma akan membangkitkan rasa marah dan muak kalau saya ingat kejadian itu. Intinya, saya menerima perlakuan meremehkan dan melecehkan secara verbal (tulisan sih sebenernya) terhadap diri saya sebagai manusia dan sebagai perempuan. Pernyataan netral yang saya tulis di YM digunakannya untuk menyerang saya secara pribadi. Well....ngakunya sih becanda. Tapi ya itu, karena saya sudah terbiasa untuk menangkap simbol2 tak tertulis, saya bisa bilang bahwa dia intentionally menyerang saya.

Hhh....mungkin dia masih perlu banyaaaaaak belajar untuk menangkap simbol yang diberikan orang lain, supaya tidak menuai murka seperti yang dia terima dari saya. Bagaimana gak murka? sudah dikasih hint bahwa saya tersinggung dan memilih untuk bicara hal yang lain nih...instead of langsung minta maaf, dia malah menuduh saya payah...

... hahahaha (tertawa miris) ...

03 July, 2006

Hhh.....Senangnya

GUE SENENG BANGET hari ini!!! Hari ini kembali nonton Nial Djuliarso di PIM 2. Pulangnya puas banget! Kenapa? .......

Nial Djuliarso itu (so far) memang OK attitudenya. Walaupun dia di USA sana tuh udah dianggep banget sebagai salah satu pianis jazz handal, tapi tetep rendah hati. Bukti:
1. Dia inget request gue dan beberapa teman minggu lalu, yang gak dia mainin karena lupa lagunya kayak apa (dia udah lama gak mainin, judulnya Kei Song), hari ini dia mainin setelah bikin contekan chord buat pemain bass dan drumnya (yang mana bikinnya baru pas lunch break). hehehe... mainnya bagus banget pula! nggak nyontek David Benoit sama sekali...
2. Dengan santainya dia mau ngobrol2 sama kita tanpa merasa "Oh, Gue musisi berkelas dunia" pas main piano. Ada satu kejadian lucu saat dimana dia menatap panik ke arah seorang anak kecil yang datengin dia terus mencet2 tanpa arti tuts pianonya. Akhirnya gue larang tuh anak mencet2 tuts karena Nialnya ngerasa keganggu tapi gak tega ngelarang (akibatnya gue dijutekin sama anak itu...huhuhu).
3. Dia mau nge-jamm sama audience, terutama 'customer based' yang udah ngendon dengan setia di samping piano dia. hehehe...termasuk sama...gueee!!! hehehe...detilnya silakan baca di bawah.

Begini ceritanya:

Bermula dari saat gue liat dia bingung mau mainin apa, gue bilang: "Nial, mainin Smile nya Nat King Cole donk". Dia langsung OK, dan jari gila dia itu langsung mainin dengan amat sangat kerennya. Buat yang tahu lagu Smile versi NKC, pasti tahu bahwa NKC bawainnya soft dan slow. Sama Nial dan other musicians with him...jadi upbeat bo'! jazzy banget...keren deh pokoknya. Improvisasinya keren ...(ok...sudah terlalu detil cerita gue tentang kualitas permainan dia). Tau2 dia nyanyi...dan dia nggak afal, salah teks. Gue dengan sok taunya meralat... Akibatnya dia kasih kode untuk gue ambil mike dan nyanyi. Dan, berkat dorongan (harfiah) temen2 gue, nyanyilah gue lagu Smile ini. Dasar anak udik, begitu nyanyi beneran gue yang nervous dan gak afal teksnya hahahahhahaha...si Nial santai aja tuh, dia asik2 ber-"subidubap" aja menutupi kebegoan gue. Dan akhirnya rontoklah lagu itu di tangan gue...pas lagunya mau abis dia nawarin..."ulang dari awal ya?" hmm...trial ke 2 dicoba, dan mendingan sih, cuma tetep ada lupa2nya....hehehe....

Atiek memang banci tampil! Awalnya sih emang mesti didorong dulu, tapi begitu pegang mike susah ngelepas. Akhirnya gue yang minta: "Here There and Everywhere donk" ... (malu2in ya). Nial nanya: "dimana?" maksudnya di kunci apa. Temen gue nyeletuk "di PIM" (khas becandaan anak psiko banget deh, garing). Terus, ya udah deh...nyanyi gue lagu itu. Kali ini lumayan...bahkan diujung-ujung lagu gue duet gitu sama dia. Aduuuuuh...gue duet sama Nial Djuliarso sodara2!!! Kalo Insya Allah gue punya anak nanti, anak gue pasti bangga emaknya pernah nyanyi sama musisi jazz handal :))

Abis itu, dia bawain lagu yang membuat gue mengerutkan kening. Enak, tapi syairnya masih gak jelas, terserah dia gitu (dia ngasih chord bassnya 10 detik sebelum dia main). Saat itu gue curiga bahwa lagu itu ciptaan dia yang baru dia bikin beberapa menit yang lalu. Ternyata kecurigaan gue hampir bener. Lagu itu memang bikinan dia, tapi udah beberapa lama, dan emang belum jadi banget (hmm..Nial gak butuh vokalis untuk nyanyiinnya? hehehe).

Yah gitu lah....senang gue. Bukan hanya karena gue bisa nyanyi sama dia. Tapi juga karena gue gak salah suka sama permainan pianonya. Anaknya baik! Ibu dan bapaknya pun baik...cuek gitu gayanya, gak somse gaya ibu2 yang bangga sama anaknya (gue pernah tuh ketemu sama ibu2 kayak gini. MENYEBALKAN!)

Nial akan balik ke US tanggal 5 Juli. Akan bolak balik ke sini sih...mudah2an gue akan tahu kapan dia main di sini karena gue bener2 menikmati permainan pianonya. Udah dapet emailnya sih...hehehe. Pas pamitan, dia nyalamin gue dan bilang: "terusin nyanyinya yaaa" (yaaah...dalam hati gue bilang: selama pusat2 karaoke ternama di Jakarta masih ada mah gue akan nyanyi terus. hehehe)

Oh ya, sebagai Ketua Umum fans club (ditunjuk secara semena-mena oleh Fuad, suami temen gue Maya - yang mengangkat diri jadi Humasnya Nial..hehehe) mau ngasih tahu lagi bahwa Nial udah ngeluarin cd berjudul "Nial Djuliarso at Julliard". Warnanya biru telur asin gitu. Di situ dia memainkan beberapa komposisi light jazz (dijamin enak!), interpretasi dia terhadap lagu2 seperti Juwita Malam, My Favorite Things, Just The Way You Are dan lain2, dan juga ada 2 lagu ciptaan dia (judulnya Moscow Morning dan this To A Friend kalo gak salah). CD ini HIGHLY RECOMMENDED!!!

Next project dia katanya mau bikin album lagi, mainin lagu2nya Ismail Marzuki (hmm...yummy kayaknya)

Udah, selesai juga cerita gue...

ps: while writing this blog, i listen to "Nial Djuliarso at Julliard" cd

23 June, 2006

Jazz untuk Jogja (Part 2: The Lessons)

Musical sense indulgement is over … now is the time to reflect the lessons:
  1. Pelajaran pertama paling berharga: Jangan malas!!! Dulu, bisa dibilang saya gak pernah bertahan lama untuk ikut suatu kegiatan kursus atau les. Dimulai (dari yang paling saya ingat) dari les menari Jawa, dengan alasan gak betah sama gaya narinya saya berhenti setelah 1 tahun (kelas 2 sd). Lalu les piano...lesnya privat, gurunya datang ke rumah. Gurunya cantik dan baiiiiik sekali. Biarpun saya gak ngerjain PR dari dia (males aja...jangan ditiru ya...), dia tetap tersenyum dan membimbing saya. Akhir dari setiap sesi les selalu saya tunggu-tunggu, yaitu saat si ibu...Shenny kalo gak salah namanya, memberikan cokelat, permen atau apapun sebagai reward buat saya. Reward ini biasanya saya taruh di belakang standard partitur...untuk diambil kemudian setelah dia pulang :D Entah apa yang salah dengan ibu guru cantik ini sampai akhirnya saya mental juga. 1 tahun setelah les dimulai, saya mundur teratur...Hmm...mungkin karena saya ngeliat gak ada tantangan kali ya, karena mau gimana pun pasti saya dapat reward ??? Gak ada sistem punishment buat saya ? Gak ada sparing partner... ? yah, akan banyak lah alasan kalo mau dicari. Yang pasti faktanya saya gak bertahan lama. Hasilnya: saya sempat dicap ‘jago’ piano sama keluarga saya…tapi karena tidak terlatih dengan baik, sekarang saya kalau main piano harus mengeja not balok dulu. Masih ada beberapa les-les lain yang sempat saya ikuti…tapi cuma akan bikin malu aja kalau semua dibahas di sini…hehehe…
  2. Menonton sekian bakat musik, saya semakin percaya bahwa orang Indonesia itu sebenernya PINTER, BERBAKAT! Tinggal gimana ngasahnya aja….hehehe…ngomong emang gampang ya
  3. Kolaborasi yang saya lihat sedikit ‘menampar’ saya. Bayangkan…jelas musisi-musisi itu JAGO main alat musik. They don’t even have any music book to look at during their performance. Udah bener-bener main dengan hati gitu… Selama mereka berkolaborasi, mereka gak sibuk melihat tangan atau permainan mereka (iya sih..kalo masih belajar kan pasti yang dilihat tangannyaaa terus…hahaha), tapi justru yang mereka lihat gitar atau permainan rekannya. Kemauan mendengar, menyesuaikan dan menayamakan pace menghasilkan harmonisasi dan sinergi yang cantik dalam penampilan mereka. Saya jadi ingat jaman saya aktif di paduan suara. Bagaimana cara mencapai harmonisasi adalah dengan at least mendengarkan suara teman yang berdiri di samping kiri kanan kita. Tujuannya supaya suara kita gak ‘menor’ sendiri. So, dalam hidup mestinya juga bisa begitu. Kita gak sibuk sama diri sendiri, gak mentang-mentang kita udah merasa ‘jago’ dengan apa yang kita lakukan, kita jadi pengen kejagoan itu keliatan sama orang…kita gak mau membiasakan diri untuk melihat orang lain, mendengar orang lain, dan saling menyamakan pace. Hmm…kalooo aja semua orang bisa saling melihat, mendengar dan menyesuaikan begitu…bayangkan betapa HARMONIS nya bangsa ini, dan bayangkan apa yang bisa kita bikin dari hasil SINERGI sekian ratus juta bangsa Indonesia!!!

    Berkhayal memang enak..merenung dan merefleksi memang perlu…tapi…back to reality bung!!! Hehehe….

    Jazz untuk Jogja memang hebat. Selain bisa menggalang dana buat membantu relief dan recovery di Jogja, acara ini sudah memberikan insight buat 1 orang bodoh yang namanya Atiek… :))

Jazz untuk Jogja (Part 1: The Event)

Tadi malam saya memanjakan diri dengan menyimak penampilan musisi jazz Indonesia di Graha Bakti Budaya TIM di event Jazz Untuk Jogja. Saya S-E-N-A-N-G sekali!!! Selain bahwa karena saya bisa bertemu teman yang sudah lamaaaaaa sekali gak ketemu (namanya Maya, dia bahkan berbaik hati bersedia saya titipkan beli tiket…thanks May!), bisa dapat gosip-gosip kecil…hehehe…daaaan…saya bisa menonton beberapa penampilan BAGUS dari musisi Indonesia dari usia ABG sampai Opa-opa.

Tujuan utama saya datang ke event ini adalah pengen nonton penampilan Nial Djuliarso, anak Indonesia yang berhasil masuk Julliard (bukan sekedar masuk pintu gerbang terus keluar lagi lho…hehehe). Tapi karena acara mulai telat 45 menit (khas ‘kita’ banget ya), saya berusaha realistis untuk tidak menunggu sampai acara selesai. Setelah bernegosiasi dengan diri sendiri, saya memutuskan untuk menonton sampai jam 22.30. Apabila sampai saat itu Nial tidak muncul juga, selesai-tidak selesai kumpulkan!!! Sedih sih…tapi ya itulah…saya masih punya tanggung jawab yang lain. Alhamdulillah…Tuhan mengerti niat mulia saya datang ke acara ini. Dengan sedemikian rupa, Nial muncul pada jam 22.15, dan selesai jam 22.25!!! PAS BANGET!!! Untunglah, saya tetap bisa nonton dia. Keren!!!

Dari mulai saya datang ke GBB sampai saya pulang, saya sukses nonton beberapa performer, baik ketika masih di pelataran depan GBB sampai di panggungnya. Masing-masing memberi kesan buat saya (I’m not an expert in music, but I trust my personal judgement…so, if other people don’t agree with mine, what the heck!!! Hihihi….). Lihat di bawah yaaa (in appearance order):

  1. Di pelataran GBB ada 3 orang main gitar (2 orang) dan 1 perkusi. Saya nggak ngeh apa nama mereka. Ngakunya baru terbentuk 1 bulan. Tapi sumpah!!! Mereka main baguuuuuus banget. Warna musiknya seperti Acoustic Alchemy, salah satu grup jazz kesukaan saya. Pertama-tama sih mainnya masih flat, datar. Tapi abis ituuu…tempo permainan (hmm…kok jadi kayak bola ya???!) jadi makin cepat. Dan saya paling senang melihat permainan lead guitarnya. Jarinya lentur banget…kayak gak ada tulangnya keren deh pokoknya!!!
  2. Masih di pelataran GBB: 1 anak perempuan umur 14 tahun main keyboard sambil nyanyi…gaya-gaya Norah Jones gitu…well, belum terlalu membuat saya ternganga-nganga sih... Tapi fakta bahwa dia bisa bermain piano sambil nyanyi aja sudah membuat saya kagum. Yah…berhubung cuma les piano 1 tahun, saya cuma bisa mengandalkan kemampuan pita suara saya saja…tapi bukan permainan piano saya, yang akhir-akhir ini semakin ‘mengeja not balok’
  3. Ok….kita masuk di auditorium, duduk dib aris ketiga dari depan. Acara dibuka oleh pembacaan puisi karya Taufik Ismail oleh Jose Rizal Manua. Yaaaah…yang namanya puisi Taufik Ismail mana ada sih yang gak bagus…???
  4. Penampilan kedua adalah Yeppy Romero dan gitarnya. Model latin-latin gitu, dengan iringan musik minus one. Hampir sama seperti cerita saya di nomor 1, saya berdecak kagum pada kemampuannya bermain gitar…itu tangan kenapa bisa lentur kayak gitu ya…?
  5. Ok…selanjutnya ada duo piano. Yang main namanya Shinta dan Febby. Sekali lagi…fakta mereka bisa bermain piano dengan repertoire sesulit itu saja sudah membuat saya menyesali lahir batin kenapa dulu saya tidak tekun berlatih piano. Komposisi yang mereka bawakan agak unik, klasik nggak, jazz banget juga nggak. Malah saya sempat komentar ke Maya, “Kok jadi berasa denger soundtrack film horror ya?”
  6. Next Song!!! Ada 3 In 1. Naaah…ini jazz banget! Mainstream-mainstream gitu deh… Bagus sih…tapi menjelang pertengahan sampai akhir penampilan, saya malah jadi melamun kemana-mana karena gak bisa dapet soulnya (kalo kata anak band). This kind of jazz is not my league. Terlalu rumit dan ketinggian! Hehehe…saya belum punya kemampuan yang cukup untuk bisa mengapresiasi jenis musiknya. Tapi tetep….kereeen…
  7. Ada Wisaksono dan Derry setelah itu. Biasa…gak tahan untuk tidak berpikir iseng. Saya berpikir: namanya 2 kok orangnya 4 ya? (see? Gak penting kan interupsi saya? Hehehe). Di penampilan ini saya menikmati banget karena bisa tune in sama beatnya. Enak deh…kayak nonton Mezzoforte!
  8. Aziz Trio: dengan Indra Aziz (ya iyalaaah) sebagai lead vocal. Saya juga suka dengan penampilan ini. Soft, lounge style music…yang saya bayangkan akan enak sekali untuk didengarkan sambil ngupi-ngupi sama teman-teman. Caranya bernyanyi santai, permainan saksofonnya indah (karena saya gak bisa main…hehehe), pokoknya indah deh!
  9. Penampilan Selanjutnya…Chlorophyl. Jadi inget jaman-jaman Modulus dan Halmahera masih berjaya. Yang nyanyi gayanya asik. Yang main bass keren (anteng, gak banyak gaya), cukup rapihlah...
  10. Next: Indro Hardjodikoro Trio, Feat. Riza Arshad – Phew…! Orang-orang ini makan apa sih? Kok bisa main musik sekeren itu??? Indro dengan gayanya yang sudah saya suka sejak masih kecil (gak berubah…sedikit menunduk, anteng…), yang main gitar dengan CABIKAN (Halah!!! Cabikan…) gitarnya bikin saya bertanya dalam hati: kalau dia disuruh ngulang bisa gak ya???hehehe…abis ruwet banget melodinya… Pertanyaan yang sama juga terlintas waktu drummernya solo. Haduh!!! Tiada kata deh… bagus bangeeet!
  11. Ada Mahagenta. Grup ini kaya banget alat musiknya. Banyak, berasal dari macam-macam pelosok (dari mulai ordinary gendang, gong Jawa, sampai alat musik dari Cina dan Aborigin). Penyanyinya 3 orang…suaranya kalo didenger sendiri-sendiri sih biasa, tapi kalo disatuin, harmonis banget! Warna musik world fusion ini membuat saya kangen untuk menonton Cozy Street Corner. Woi!!! Apa kabar Adoy, Chris, Boby???
  12. Mulai capek nulis nih…bentar ya…
  13. Ok…mulai lagi…setelah itu ada Rio Moreno Latin Combo. Kata Maya, Rio Morenonya kayak ustad Uje…hahaha…gak kepikiran tuh saya. Bagaimana kesan saya terhadap penampilan kali ini? Terus terang saya sedang gak konsen, karena mulai resah kapan Nial muncul…maaf ya...
  14. Tak disangka, tak dinyana….Ladies and Gentlemen…Sambutlah….! NIAL DJULIARSO!!! Awalnya saya gak ngeh waktu melihat dia melintas dari sisi kanan panggung (dari tempat saya duduk) menuju piano di sebelah kiri. Saya kira…oh, ok, another performer…Tapi begitu diperhatiin kok mukanya familiar ya? Begitu ngeh…langsung saya tepuk tangan! Bodo deh kedengeran sama yang lain :D. Nial tidak tampil sendiri. Berkolaborasi dengan Oele Pattiselanno, mereka membawakan 1 komposisi. Saya senang sekali bisa melihat permainan piano dia secara live. Lucu!!! Instead of duduk dengan tenang dan main piano dengan teratur, Nial selalu mengubah-ubah posisi duduknya. Kayak orang gak betah gitu…lucu deh…seluruh badannya seperti ikut bermain. Gak kaku jaim khas pianis klasik gitu…Komunikasi yang dijalin dengan Oom Oele (hahaha…SKSD banget ya, manggilnya Oom) juga bagus…masing-masing tampil cantik tanpa melibas eksistensi yang lain. Hasilnya? SUPERB!!!
  15. Misi mulia sudah dijalankan, jam menunjukkan 22.25, saya memutuskan untuk pulang. Walaupun geregetan juga, karena pas mau berdiri dari kursi penonton, Benny Likumahua melintas di atas panggung untuk siap-siap main. Hicks….gak bisa nonton dia…:((

    Masih banyak yang melintas di kepala. Nanti sambung lagi ya… :))

20 June, 2006

ARMANI

Apa yang bisa gue tulis tentang Armani?

Dari beberapa kali mencoba menulis, kayaknya yang paling sulit justru untuk menceritakan tentang Armani. 3 draft tulisan berakhir sia-sia setelah gue meng-klik tombol delete di word atau blog. Susah sekali menulis tentang Armani....kenapa ya?

Gue yakin kesulitan ini bukan karena gue gak punya bahan yang cukup untuk menceritakan tentang 5 sahabat terbaik gue itu: Anne, Atink, Didin, Kika dan Vina. Sejak lebih dari 12 tahun yang lalu, bisa dibilang mereka adalah salah 5 dari agen utama yang bertanggung jawab terhadap perubahan cara berpikir, konsep diri dan sikap gue terhadap banyak hal.

Hhh...sangat susah menulis tentang Armani. Bukan karena gak bisa...tapi setiap mau menulis tentang mereka, gue selalu merasa overwhelmed sendiri....ujung2nya cuma ada dua alternatif...ketawa2 sendiri atau nangis --> nyeremin kan???

Persahabatan yang sudah dan masih mereka tawarkan sama gue terlalu GILA untuk gue jabarkan di sini... Just meet us, and you'll know what kind of people that i've been wanted to describe :)

*this is my tribute for you, girls*

In My Life


There are places I remember / all my life, / Though some have changed, / Some forever, not for better, / Some have gone and some remain.

All these places had their moments / With lovers and friends / I still can recall. / Some are dead and some are living. / In my life / I’ve loved them all.

But of all these friends and lovers, / There is no one compares with you, / And these memories lost their meaning / When I think of love as something new.

Though I know I’ll never lose affection / For people and things that went before, / I know I’ll often stop and think about them, / In my life / I’ll love you more.

- John Lennon -

40

Beberapa bulan lalu kami melakukan syukuran 40 tahun perjalanan pernikahan 2 orang tua kami. Ceritanya mau bikin surprise party. Alhamdulillah sukses. Hampir seluruh undangan hadir, Bapak dan Ibu senang, entertainment berjalan lancar dan gak garing (sebagai keluarga yang doyan mengaktualisasikan diri di kancah nyanyi-nyanyi bareng, bisa dikatakan vokalis band yang mengiringi kami makan gaji buta malam itu..hehehe). Pokoknya...seneeeeng deh!!! Ternyata 8 orang itu adalah jumlah personil yang cukup buat menyelenggarakan sebuah acara. Hmm..bisa bikin EO nih...hehehe.

Sekedar untuk berbagi, berikut adalah sebagian dari apa yang disampaikan anak-anak kepada kedua orang tuanya atas 40 tahun dedikasi mereka...

40 tahun bukanlah waktu yang pendek...butuh dedikasi yang besar untuk membesarkan begitu banyak anak dengan tabiat berbeda, kenakalan berbeda (walaupun ada 1 persamaan: sama-sama keras kepala..hehehe). Kami bersyukur kepada Allah SWT yang telah begitu sayangnya pada kami dengan memilihkan Bapak dan Ibu sebagai orang tua dan eyang-abo kami. Allah SWT telah memilihkan kami 2 orang tua yang telah MEMILIH untuk memberikan segala usaha yang terbaik bagi kami. Sejak kami kecil sampai sekarang, Bapak dan Ibu telah menunjukkan kepada kami makna kata 'sayang' yang sesungguhnya. Kami percaya bahwa dalam doa beliau berdua, nama kami selalu disebutkan. Dan bagi kami...doa tulus orang tua bagi kebaikan anaknya adalah harta yang paling mahal. Terima kasih Bapak, Ibu...atas segala pengorbanan, teladan, dan ketulusan hati Bapak dan Ibu dalam membimbing dan mengiringi perjalanan hidup kami hingga kami dapat menjadi seperti sekarang ini.

Saya ingat ungkapan (entah pujangga atau bukan...) yang kurang lebih bunyinya: "Berapapun usia kita, di mata orang tua seorang anak akan tetap sebagai anak". Kalau ada istilah "Kasih sayang orang tua sepanjang jalan", maka dari sisi anak juga ada istilah "Bakti anak sepanjang hidup". Perjalanan kami masih sangat panjang, bakti kami tidak akan pernah pantas dibilang selesai. Apa yang kami lakukan saat ini tidak akan pernah sebanding dengan apa yang telah Bapak dan Ibu berikan pada kami selama 40 tahun. Mohon maaf atas begitu banyaknya kesalahan yang telah kami lakukan. Dan kami mohon keikhlasan hati Bapak dan Ibu untuk menerima apa yang kami lakukan ini sebagai salah satu cara kami untuk mengungkapkan rasa cinta dan terima kasih kami. Allah SWT menjadi saksi atas semua hal baik yang telah Bapak dan Ibu berikan pada kami. Semoga dari setiap detik kebaikan yang kami lakukan sepanjang hidup kami, Allah SWT akan melipatgandakan kemuliaan Bapak dan Ibu...

Ada salah satu nasehat 'sakti' Bapak dan Ibu yang saya ingat. Bunyinya kurang lebih: "Apapun yang kamu lakukan, kemanapun kamu melangkah, bayangkan muka Bapak dan Ibu..."

- Dibacakan pada syukuran 40 tahun pernikahan WR, 18 April 2006

Bingung Judulnya Apa

Seperti biasa...ketika begitu banyak pikiran yang bermain di kepala, kelihatannya lebih pas kalo dituangkan dalam tulisan gak jelas...yang kadang-kadang cuma bisa dimengerti oleh yang nulis. Nggak apalah...di blog sendiri ini...hehehe

Beberapa waktu yang lalu salah satu sahabat saya memutuskan untuk memulai pekerjaan di tempat yang baru. Dari 1 sudut (sudut merah...hehehe seperti tinju), kondisi di tempat yang baru jauuuuh lebih baik dari kondisi saat ini. Dari mulai (standar) struktur kompensasi, kemungkinan pengembangan keterampilan, tanggung jawab dan aktualisasi diri sampai pengembangan network yang lebih luas. Di sudut biru ada handicap nya juga. Budaya kerja long hour sudah sangat kuat tertanam di tempat kerjanya yang baru, sehingga sahabat saya ini belum apa-apa sudah 'ditatar' untuk membangun kebiasaan yang sama...pulang malam.

Sebagai ibu muda dengan 1 anak yang lucuuu (sudah dicanangkan sebagai calon mantu hihihi), kondisi itulah yang paling memberatkan sahabat saya. Nah...intinya, dia cerita bahwa sebagian besar orang menyarankan dia tidak mengambil pekerjaan itu. Sementara saya....justru menyarankan untuk ambil. Kontroversial ya? (hehehe...nggak juga sih, biasa aja) Waktu saya berdiskusi dengannya, saya hanya bertanya: Kalo lo udah tahu dengan kondisi lo itu, siap gak ambil resikonya? Dapat dukungan nggak dari suami dan keluarga? Lonya sendiri pengen apa nggak? Kalo iya, dan lo yakin...ambil!!! (gara-gara saya kasih saran ini, saya dimarahi oleh teman yang lain...hehehe)

Ungkapan 'hidup itu pilihan' pasti sudah banyak yang hafal. Kayaknya gak perlu diterangin lagi bahwa setiap orang berhak untuk memilih menjalani hidup seperti apa. Ibarat buku 'pilih sendiri petualanganmu', semua hal yang kita alami pasti ada hubungannya dengan pilihan yang kita ambil di masa lalu.

Masih ada hubungan dengan pilihan, tapi tidak ada hubungannya dengan karma, kalau kita melakukan sesuatu terhadap orang lain, kita juga harus siap menerima resiko dari tindakan kita itu (baik atau buruk) ... yah...istilah kerennya: what goes around comes around , siapa menebar angin dia menuai badai ... :)

Jadi, jangan pernah sepelekan pesan filosofis yang selalu dikumandangkan oleh mbak-mbak robot di dalam Transjakarta setiap mau sampai di satu halte: "Periksa barang bawaan anda, dan hati-hati dalam melangkah..." ;))

Kangen

Hhhh....lagi-lagi...

*Kangen sama periode 2001 saat komputer cuma 1 di tengah-tengah, yang jadi rebutan bertiga untuk kerja (selama 5 menit) dan belajar Minesweeper (sampai sadar mesti kerja lagi)

*Kangen sama keisengan main timpuk-timpukan kertas melalui batas cubicle yang seadanya...

*Kangen menjawab semua ledekan dan celaan yang kadang, kalo orang awam yang denger, bisa dianggap menghina...(tapi kita tahu bahwa itu tanda sayang kan? hehehe...)

*Kangen sama masa waktu hp ketinggalan di laci LPS sepanjang weekend gara-gara IH dan LPS kelupaan setelah ngumpetin hp itu di laci LPS...

*Kangen sama upacara menandatangani koran wajib baca yang gak jelas tujuannya apa :))

*Kangen sama masa membongkar buku telepon bisnis untuk mencari korban sales call, yang sering diulang-ulang demi memenuhi sales call report semata

*Kangen sama penghiburan-penghiburan yang diberikan dalam bentuk dukungan, celaan, pelukan, becandaan, sampai bentakan saat kondisi emosi sedang benar-benar berada di bawah titik nadir

*Kangen sama sapaan selamat pagi, siang, sore dan dadah-dadahan saat bel pulang kantor 'berbunyi'

*Kangen sama lagu-lagu mp3 yang mengisi seluruh ruangan cubicle, dari yang norak, keren, lagu-lagu boy band, sampai yang bikin kita cuma bisa bengong menatap nanar ke monitor komputer...lalu pelan-pelan tersenyum miris sambil secara sembunyi-sembunyi menghapus air mata di sudut mata...

*Kangen sama aktifitas rebutan alat tulis kantor yang sering dihakmiliki secara sepihak

*Kangen sama taruhan cokelat Toblerone yang nggak pernah lunas karena berantai dan gak jelas siapa yang akhirnya harus beli...

*Kangen sama pertengkaran-pertengkaran kecil cuma gara-gara tinggi kursi diturunin seenaknya atau salah ngomong...yang selalu diakhiri dengan baikan (melalui mekanisme salaman jari kelingking)

*Kangen sama diskusi 'tingkat tinggi' di pantry maupun deretan tempat makan (mahal dan murah) di MidPlaza

*Kangen sama perasaan senasib sepenanggungan dan punya 'musuh bersama'

*Kangen sama tendang-tendangan di bawah meja pas regular meeting satu arah karena sebel, bosen, atau sekedar ingin memberi kode akan sebuah interesting matter :))

*Kangen sama....acara jalan-jalan ke Bandung lengkap dengan makan siang udang 40.000 dan belanja sampai bangkrutnya...

*Aku kangen sama ...KANGEN SAMA KALIAN!!!! :((

- Specially dedicated to my beloved friends from a (so-called) HR Consulting company on the 12th floor of a building in Sudirman area... I love you guys...thanks for being a wonderful and solid gank -